Rangkuman Proses Biologis Dalam Tanah dan Air Tanah (lanjutan)
Februari 13, 2009
Metabolisme mikroorganisme
Metabolisme mikroorganisme merupakan proses-proses kimia yang terjadi di dalam tubuh mikroorganisme. Metabolisme disebut juga reaksi enzimatis, karena metabolisme terjadi selalu menggunakan katalisator enzim. Dalam metabolisme mikroorganisme, energi fisik atau kimiawi dikonversi menjadi energi melalui metabolisme mikrorganisme dan disimoan dalam bentuk senyawa kimia yang disebut adenosine 5′-triphospate (ATP).

Gambar 1.Struktur molekul ATP
Energi yang tersimpan dalam bentuk senyawa ATP dapat diperoleh oleh mikroorganisme melalui hidrolisa. Energi yang diperoleh dari melalui proses atau reaksi kimia disebut sebagai free energy atau energi bebas (G). Pada reaksi yang melepaskan energi, maka harga G adalah negatif, sedangkan pada reaksi yang memerlukan energi, maka harga G adalah positif. Energi hasil metabolisme disimpan oleh mikroorganisme dalam bentuk senyawa phosporyl.
ATP terbentuk dari reaksi antara adenosine 5′-diphospate (ADP) dengan phospat anorganik, membentuk ikatan phosporyl sebagai berikut (Horan, 1991):
ADP3- + Pi + H+ → ATP4- +H2O ΔG= +30 kJ/mol (1)
Reaksi diatas menunjukkan proses katabolisme, yaitu proses penguraian zat untuk membebaskan energi kimia sebesar 30 kJ yang tersimpan dalam senyawa organik.
ATP yang telah tersintesa tersebut disimpan di dalam sel untuk digunakan bila diperlukan. Energi yang tersimpan tersebut dikeluarkan melalui hidrolisa ikatan phosporyl dalam suatu reaksi yang merupakan kebalikan dari reaksi (1), yaitu sebagai berikut:
ATP4- +H2O → ADP3- + Pi + H+ ΔG= -30 kJ/mol (2)
Reaksi diatas merupakan proses anabolisme, yaitu pembentukan molekul yang kompleks dengan menggunakan energi sebesar 30 kJ/mol. Kedua reaksi di atas terjadi karena katalisa enzim ATP-ase.
Reaksi redoks dalam proses metabolisme
- akseptor electron dan pendonor electron
Zat organik yang berfungsi sebagai substrat yang digunakan sebagai sumber energi dan pertumbuhan disebut sebagai electron donor, sedangkan energi yang diperoleh oleh mikroorganisme tersebut dapat dilepas atau digunakan untuk bereaksi dengan electron acceptor.
Reaksi oksidasi akan menghasilkan energi yang berasal dari energi bebas yang dilepaskan. Sabagai contoh, oksidasi senyawa AH2 berlangsung sebagai berikut:
AH2 → A + 2H+ + 2e- ΔG= -energi (3)
Contoh reaksi oksidasi yaitu oksidasi yang dilakukan oleh bakteri Thiobacillus ferooxidans atau Gallionella ferruginosa dalam mengoksidasi ferro menjadi feri, sebagai berikut: Fe2+ → Fe3+ + e-. Ion feri kemudian membentuk feri hidroksida yang tidak larut dalam air dan membentuk endapan.
Reaksi reduksi akan memerlukan input energi supaya proses reduksi dapat berlangsung. Conto reduksi B dapat terjadi sebagai berikut:
B + 2H+ + 2e- → BH2 ΔG= +energi (4)
Pada reaksi redoks, reaksi oksidasi atau reduksi harus berpasangan. Dalam kasus ini, reaksi AH2/A dan B/BH2, masing-masing disebut reaksi setengah sel atau pasangan redoks. Reaksi pasangan redoks diatas dapat dtuliskan sebagai berikut:
AH2 B
A BH2
Dalam kaitannya dengan degradasi kontaminan, secara konseptual,bila reaksi 3 dan 4 dijumlahkan dapat ditulis sebagai berikut:
Kontaminan + Xoks → Produk + Xred ΔG= ±energi
Potensi untuk melakukan reaksi oksidasi atau reduksi dari suatu pasangan reaksi di atas disebut sebagai potensial redoks (E0). Tabel 3 menyajikan potensial redoks standar dari reaksi setengah sel yang umumnya terjadi dalam reaksi redoks biologis.
Tabel 3. Potensial redoks standar untuk reaksi setengah sel dari reaksi yang terjadi di dalam proses metabolisme
|
Reaksi setengah sel |
Potensial Redoks* (mV) |
| 1/2O2 + 2H+ + 2e → H2O |
+816 |
| Fe3+ + e → Fe2+ |
+771 |
| Cytochrome a Fe3+ → Cytochrome a Fe2+ |
+290 |
| Cytochrome b Fe3+ → Cytochrome b Fe2+ |
+80 |
| Fumarat + 2H+ + 2e → Succinate |
+31 |
| Acetaldehyde + 2H+ +2e → Ethanol |
-163 |
| Pyruvate + 2H+ +2e → Lactate |
-190 |
| NAD+ + 2H+ +2e → NADH + H+ |
-320 |
| NADP+ + 2H+ +2e → NADPH + H+ |
-320 |
| CO2 + 2H+ + 2e → Formate |
-420 |
| H+ + e → 1/2H2 |
-420 |
| Acetate + 2H+ + 2e → Acetaldehyde |
-600 |
Catatan: Pada pH = 7 dan temperatur 30oC
NAD = nicotinamide adenise dinucleotida group
NADP = nicotinamide adenise dinucleotida phosphate
Sumber : Horan, 1991
Energi netto yang diperoleh dari reaksi pasangan redoks dapat dihitung berdasarkan persamaan sebagai berikut:
ΔG= -n F E0 (Horan, 1991)
Keterangan: ΔG = perubahan energi dari bebas standar (kJ/mol)
n = jumlah elektron yang ditransfer dalam reaksi
ΔE0 = perubahan potensial redoks (V)
F = konstanta Faraday = 96.649 kJ/V.mol
- Phosphorilasi dan chemiosmoitis
Reaksi penghasil energi oleh dan bagi mikroorganisme dapat dilakukan dengan dua mekanisme:
1. Phosphorilasi pada tingkat substrat
Beberapa mikrorganisme mampu melakukan sintesa ATP dengan melakukan phosphorilasi substrat, seperti disajikan dalam Tabel 4.
Tabel 4. Reaksi sintesa ATP dengan phosporilasi substrat pada kondisi anaerobik
|
Reaksi Sintesa |
Enzim Aktif |
ΔG (kcal/mol) |
| 1,3 – Biphosphoglycerate + ADP → 3-Phosphoglycerate + ATP | Phosphoglycerate kinase |
-5.8 |
| Phosphoenolpyruvate + ADP → Pyruvate + ATP | Pyruvate kinase |
-5.7 |
| Acetyl phosphate + ADP → Acetate + ATP | Acetate kinase |
-3.1 |
| Butyryl phosphate + ADP → Butyrate + ATP | Butyrate kinase |
-3.1 |
| Carbanyl phosphate + ADP → Carbamate + ATP | Carbonate kinase |
-1.8 |
| N10 – Foryl FH4 + ADP + P → Formate + FH4 + ATP | Formyl FH4 synthetase |
+2.0 |
*1 kJ/mol = 0.239 kcal/mol. Sumber: Horan, 1991
2. Proses chemiosmotic
Proses chemiosmotic diusulkan oleh Mitchel (1966) yang menerangkan bahwa mekanisme transfer proton dan elektron melewati dinding sel yang bersifat sebagai membran. Teori ini menganggap bahwa terdapat gradien elektrokimia dalam bentuk gradien pH dan potensial elektris antara bagian luar membran sel dan bagian dalamnya, dan enzim ATPase yang mengkatalis reaksi tersebut berada dalam membran. Jumlah gradien ΔH+ (dalam bentuk ΔpH) dan potensi elektrik membran (Δψ) disebut sebagai “proton motive force” yang dapat diketahui berdasarkan persamaan sebagai berikut:
ΔP = Δψ -2.3 RTΔpH/F
Keterangan:
ΔP = proton motive force (mV).Tipikal:-100 sampai +300 mV (Horan, 1991)
R = konstanta gas (8.314 J/K mol)
T = temperatur absolut (oK)
F = konstanta Faraday (96.649 kJ/V.mol)
Entry Filed under: Uncategorized. .
2 Comments Add your own
Leave a Comment
Some HTML allowed:
<a href="" title=""> <abbr title=""> <acronym title=""> <b> <blockquote cite=""> <cite> <code> <pre> <del datetime=""> <em> <i> <q cite=""> <strike> <strong>
Trackback this post | Subscribe to the comments via RSS Feed



1. Wawan | April 23, 2009 at 2:28 pm
wuiidiiih
apaan ini mbang?
tugas kuliah??
lagi blogwalking nih….hehehe
2. Ari kemas | September 30, 2009 at 3:04 pm
Hebat bambang, aku aja ga ngerti lagi.. hehehe